Jakarta – Tim arkeolog dari Universitas Wina baru-baru ini menemukan ratusan guci besar di dalam area sekitar makam kuno dalam area Mesir (9/10). Guci yang tersebut disebut diketahui sebagai penyimpanan anggur berusia tambahan dari 5.000 tahun yang tersebut itu tertimbun pada dalam tanah zaman kekuasaan Ratu Meret-Neith, menurut laporan Science Alert.
Beberapa guci di tempat dalam antaranya ditemukan masih tersegel. Saat ini ratusan guci kuno yang mana masih ditelusuri kemudian juga diteliti setiap detailnya.
Setelah diamati, para peneliti yakin bahwa wadah tanah liat yang tersebut bertumpuk itu berasal dari dinasti pertama suku Mesir Kuno yang hal itu berlokasi di area dalam Um al Qaab, Abydos, Sohag Governorate, Mesir. Abydos terletak sekitar 340 mil tenggara Kairo.
Para ahli mengatakan penemuan merek memperkuat gagasan bahwa Meret-Neith adalah firaun perempuan pertama dalam tempat Mesir kuno. Selain harta karun makam yang mana yang disebut tersisa di dalam dalam makamnya, Meret-Neith adalah satu-satunya wanita yang mana dimaksud miliki makam monumentalnya sendiri dalam dalam pemakaman kerajaan pertama di area dalam Abydos.
Meret-Neith hidup sekitar 5.000 tahun yang digunakan yang disebut lalu, menjabat sebagai ratu Mesir sekitar tahun 2950 SM. Setidaknya dia adalah permaisuri serta bupati.
Kendati Meret-Neith diyakini sebagai firaun perempuan, para arkeolog bukan ada dapat menentukan posisinya dengan pasti. Ratu pertama yang mana diketahui memegang gelar kerajaan penuh adalah Sobekneferu, satu milenium kemudian.
Wine kuno berusia 5.000 tahun masih terjaga dengan baik
Guci berisi anggur yang dimaksud disebut terawetkan dengan sangat baik, bahkan terdapat biji anggur kuno di dalam area beberapa dalam antaranya, kata para peneliti.
Selain toples berisi minuman anggur, para peneliti menemukan prasasti yang digunakan digunakan menyatakan bahwa Meret-Neith bertanggung jawab atas kantor-kantor penting, seperti perbendaharaan kerajaan. Hal ini menambah bukti sebelumnya tentang pentingnya peran sang ratu.
Menurut arkeolog, kompleks makam, yang dimaksud terbuat dari batu bata lumpur, tanah liat, juga juga kayu yang tersebut dimaksud belum dipanggang, juga mencakup 41 makam milik para pelayan ratu.
Penelitian mengungkapkan bahwa makam-makam hal hal tersebut dibangun dalam beberapa tahap dalam jangka waktu yang tersebut yang disebut lama, menantang gagasan yang ada bahwa pengorbanan manusia adalah bagian dari penguburan kerajaan selama dinasti pertama Mesir kuno, kata universitas itu dalam rilisnya.

