5 Ciri Pasangan Bisa Lakukan Kekerasan seperti Ronald Tannur

5 Ciri Pasangan Bisa Lakukan Kekerasan seperti Ronald Tannur

Jakarta – Tidak sedikit orang masih berpandangan sempit terkait kekerasan. Menurut ahli terapi klinis serta spesialis kesehatan pikiran juga juga tubuh, Michele Kambolis, banyak kasus menunjukkan bahwa ketika seseorang menganggap enteng kekerasan, hal itu dapat berbahaya bahkan dapat mengancam jiwa.

Misal, seperti kasus penganiayaan yang dimaksud itu dijalankan Ronald Tannur, orang anak anggota DPR RI. Ronald menganiaya kekasihnya DSA (29) yang digunakan baru ia kencani selama 5 bulan hingga meninggal dunia.

Jennifer C. Genovese, pekerja sosial klinis berlisensi mengatakan bahwa pelecehan emosional, pelecehan psikologis, pelecehan seksual, pelecehan finansial, pelecehan, juga juga penguntitan semuanya termasuk dalam kekerasan dalam hubungan. Menurutnya tanda-tanda kekerasan dalam suatu hubungan tidaklah selalu mudah dideteksi oleh orang lain, lalu juga bahkan lebih besar tinggi sulit dikenali oleh merekan yang tersebut mana mengalaminya.

Hubungan yang tersebut penuh kekerasan mungkin tampak intens atau penuh kasih sayang pada awalnya.

“Pasangan dominan mungkin tampak sangat perhatian, protektif, kemudian perhatian, serta menunjukkan perhatian kemudian kasih sayang yang dimaksud yang luar biasa,” jelas Genovese.

Kenali tanda-tanda awal kekerasan dalam hubungan, seperti dikutip dari Everyday Health:

1. Bersikeras Menemani Anda ke Mana Saja

Pelaku kekerasan yang mana dimaksud ingin mengisolasi Anda dari orang lain tidak ada ada pernah meninggalkan Anda sendirian, namun bukan dikarenakan mereka sangat sayang serta semata-mata sekadar ingin waktu bersama.

Tindakan tersebut justru untuk membangun kekuasaan kemudian dominasi atas diri Anda. Merek juga ingin menjauhkan Anda dari orang-orang terkasih, sehingga Anda hanya saja hanya mampu semata bergantung kepada pasangan.

Pelaku kekerasan dapat secara tidaklah langsung mengisolasi seseorang dengan tidak ada ada mengizinkannya meninggalkan rumah atau melakukan aktivitas apa pun sendirian, seperti pergi ke sekolah atau bekerja, menemui dokter, berbelanja, atau berpartisipasi dalam acara bersama keluarga besar atau teman.

2. Sering Menggunakan Taktik Gaslighting

Gaslighting adalah salah satu bentuk pelecehan psikologis dalam tempat mana pelakunya menyebabkan seseorang mempertanyakan keputusannya sendiri. 

Menurut Genovese, gaslighting dapat dalam bentuk ejekan atau mempermalukan seseorang, serta kemudian menuduh Anda terlalu sensitif, baper, lebay, atau dramatis ketika bereaksi terhadap ejekan tersebut.

“Korban dibuat merasa bingung… sehingga mulai mempertanyakan reaksi lalu perasaan merekan itu sendiri,” kata Genovese.

Dalam hubungan seperti ini, pelaku sering kali menggambarkan orang yang mana dimaksud dianiaya sebagai orang yang mana dimaksud tak sehat secara mental serta juga terlalu reaktif, atau meremehkan insiden pelecehan sebagai argumen yang tersebut dimaksud normal. Seiring waktu, orang yang tersebut dianiaya mungkin mempertanyakan semua pemikirannya sendiri, menimbulkan merekan itu semakin bergantung pada pelaku.

3. Menggunakan Love Bombing 

Love bombing atau bom cinta yang tersebut digunakan dapat terdiri dari hadiah, pujian, permintaan maaf, juga janji muluk-muluk untuk bukan mengulangi perilaku kasar. Jika hal ini terjadi, carilah bantuan untuk memutuskan hubungan dengan aman. 

4. Orang yang dimaksud dimaksud Dianiaya Tampak Tak Berdaya

Seseorang yang mana yang disebut mengalami kekerasan dalam hubungan mungkin nampak pasrah. Misalnya, korban mungkin menghubungi pelaku kekerasan sebelum mengambil keputusan apa pun, sekecil apa pun. Mereka juga mungkin menghindari menjawab pertanyaan pada depan orang lain tanpa memohonkan izin dari pelaku kekerasan.

5. Hubungan sering putus-sambung

Seseorang yang digunakan dimaksud mengalami kekerasan dalam hubungan seringkali harus mencoba meninggalkan pasangannya hingga beberapa kali, sebelum akhirnya bisa jadi sekadar benar-benar kembali ke kehidupannya sendiri.

Menurut Women Against Abuse, ada beberapa alasan yang mana menyebabkan hal ini:

  • Mereka kekurangan sumber daya, seperti tempat tinggal yang tersebut aman atau moda transportasi yang digunakan itu dapat diandalkan.
  • Mereka takut jatuh ke dalam hambatan finansial atau kemiskinan.
  • Mereka mengkhawatirkan kesejahteraan keluarga,
  • Ketakutan akan bahaya atau pembalasan dari pelaku

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *